<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>ikram.web.id &#187; kisah islami</title> <atom:link href="http://ikram.web.id/tag/kisah-islami/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://ikram.web.id</link> <description>Integrity, truthfulness, and straightforwardness</description> <lastBuildDate>Sun, 24 Oct 2010 01:18:45 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator> <item><title>Kaya Dengan Islam dan Kisah Si Minim</title><link>http://ikram.web.id/inspiration/article/kaya-dengan-islam-dan-kisah-si-minim/</link> <comments>http://ikram.web.id/inspiration/article/kaya-dengan-islam-dan-kisah-si-minim/#comments</comments> <pubDate>Wed, 07 Apr 2010 11:04:39 +0000</pubDate> <dc:creator>Raden Ikram</dc:creator> <category><![CDATA[Article]]></category> <category><![CDATA[islam]]></category> <category><![CDATA[kaya]]></category> <category><![CDATA[kisah islami]]></category><guid
isPermaLink="false">http://ikram.web.id/?p=388</guid> <description><![CDATA[Sahabat, telah banyak kita mendengar sebagian orang berkata bahwa penerapan prinsip-prinsip islam yang terlalu mendetail dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menghambat upaya kita dalam menggapai kekayaan dunia yang diharapkan. Pertanyaannya benarkah islam dan aturan2nya merupakan penghambat keinginan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang berlimpah? Satu hal yang sering dijadikan argumen oleh kebanyakan orang yang berpendapat seperti ]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat, telah banyak kita mendengar sebagian orang berkata bahwa penerapan prinsip-prinsip islam yang terlalu mendetail dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menghambat upaya kita dalam menggapai kekayaan dunia yang diharapkan. Pertanyaannya benarkah islam dan aturan2nya merupakan penghambat keinginan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang berlimpah?</p><p>Satu hal yang sering dijadikan argumen oleh kebanyakan orang yang berpendapat seperti diatas adalah, bahwa kenyataannya justru banyak orang-orang kaya yang ada sekarang adalah mereka yang tidak menjalankan keseluruhan ajaran yang ada dalam islam, bahkan sebagian sama sekali tidak mengaplikasikan ajaran agama. Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa yang menentukan kesuksesan adalah ilmu pengetahuan dan kerja keras semata dan tidak ada kaitannya dengan agama.</p><p>Seperti apakah islam memberikan jawaban untuk masalah ini. Ternyata hal ini sudah dijawab langsung oleh Allah SWT yang tercantum di dalam al-Quran, yang seperti kita ketahui bersama sudah ada sejak jaman nabi Muhammad SAW, masalahnya ternyata tidak semua orang mencoba untuk mencari dan mempelajarinya, padahal pentingnya ilmu sudah sangat jelas, nabi dalam sebuah hadits bersabda, “Tuntutlah ilmu dari semenjak dilahirkan sampai masuk liang lahat”.</p><p>Penjelasan mengenai kenapa orang-orang yang tidak beriman sekalipun bisa mendapatkan kekayaan berlimpah padahal katanya yang mendatangkan rahmat Allah itu adalah orang-orang yang beriman,kita lihat pada salah satu firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 212, firman-Nya:</p><p><strong>“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. 2:212)</strong></p><p>Disebutkan dengan jelas bahwa Allah memberi rizki kepada semua hamba yang dikehendaki-Nya dan tanpa batas. Hal ini menjelaskan bahwa keseluruhan manusia siapapun itu akan mendapatkan limpahan kenikmatan sesuai dengan kehendak-Nya. Yang perlu dijadikan renungan adalah, penjelasan juga bahwa harta yang diperoleh dengan mengabaikan nilai-nilai islam hanya akan bermakna selama didunia, dan pada akhirnya di akhirat nanti tidak akan memberikan manfaat apapun. Karena itu sungguh beruntung orang-orang yang diberikan nikmat bekerja keras, keinginan menuntut ilmu, serta tetap menjunjung nilai-nilai islam dalam kehidupan kesehariannya, karena mereka akan mendapatkan kenikmatan yang tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak, Insya Allah.</p><p>Bagaimana mencapai kekayaan dunia akhirat:</p><p><strong>1.</strong>Menuntut ilmu tanpa henti, tanpa perlu dijelaskan lagi keistimewaan menuntut ilmu yang bahkan apabila disebarkan akan menjadi pahala yang terus mengalir kendati kita telah meninggal dunia.</p><p><strong>2.</strong>Sedekah, manfaatnya sama seperti ilmu yang pahalanya akan terus mengalir, disamping itu terdapat banyak janji-janji Allah tentang balasan kenikmatan dari sedekah ini baik di dunia maupun di akhirat. Untuk sedekah ini saya mempunyai sebuah kisah nyata dari salah seorang sahabat saya.</p><p><strong>“Si Minim”</strong></p><p>Si minim, begitu dulu hampir semua teman-teman memanggilnya, bukan karena bentuk fisik atau namanya dia disebut begitu, namun lebih dikarenakan, pada setiap kesempatan bermain bersama, si minim tersebut hampir selalu tidak mempunyai uang, bahkan sekedar lembaran ribuan rupiah pun tidak dimilikinya.</p><p>Ketika beranjak dewasa hampir semua teman sepermainan kami berpisah, dan beberapa bahkan tidak diketahui lagi keberadaanya. Setelah hampir tiga tahun tidak bertemu (keadaan si minim pada saat terakhir bertemu masih minim) kami berjumpa kembali pada akhir 2009 lalu, pada saat perjumpaan kembali untuk pertama tidak ada yang istimewa karena si minim (yang ternyata sudah tidak minim) pun hanya sekedar sekalian mampir karena sedang ada keperluan, jadi hanya sebentarlah kami mengobrol, si minim pun kemudian pamit dan berjanji minggu depan akan kembali lagi karena mempunyai waktu luang, maka pulanglah si minim (yang tanpa disadari masih disebut si minim oleh sahabat yang lain, padahal saat itu dia sudah mengendarai sebuah mobil)</p><p>Semua sahabat baru terhenyak ketika si minim datang kembali sesuai janji pada minggu depannya, semua sudah mulai bertanya-tanya kenapa mobil yang digunakan oleh si minim tersebut sudah berganti lagi bukan mobil yang digunakan ketika bertemu minggu lalunya, apakah karena itu mobil kantor atau lainnya. Saat ditanya tentang hal tersebut, suasana sedikit berubah, si minim ternyata malah terisak sebelum memulai ceritanya, menurut penuturannya mobil-mobil tersebut adalah benar miliknya dan bahkan selain itu masih ada mobil-mobilnya yang lain, juga dimilikinya beberapa rumah dan sebuah perusahaan yang dia katakan omsetnya kini telah mencapai miliaran dalam sebulan.</p><p>Diiringi suasana malam yang semakin haru kemudian sahabat yang lain kembali bertanya “Bagaimana cara mendapatkan semua kekayaan itu, padahal selang waktu kita tidak bertemu hanya sekitar dua setengah tahun?”. Sambil terisak dan tetesan airmata yang mulai mengalir diwajahnya, dia berkisah, “Setiap mengingat semua ini rasanya tidak akan cukup semua syukur yang harus diucapkan, ketika itu, yaitu sekitar dua tahun yang lalu, saya berada dalam situasi yang sangat sulit sampai-sampai pada suatu hari istri memberitahu kebutuhan dapur belum terpenuhi, si kecil terus merengek meminta susu dan berbagai keperluan lainnya, sedangkan uang yang saya pegang hanya lima ribu rupiah, dimana harga sekotak susu bubuk ukuran kecil pun bisa 4 kali lipatnya. Saat kebingungan itu saya mencoba keluar rumah untuk berkeliling mencari pekerjaan yang sekiranya bisa menuntaskan permasalahan yang ada. Saat sedang berkeliling mencari pekerjaan itulah terdengar suara azan yang entah kenapa tidak seperti biasanya yang saya acuhkan, saya masuk ke masjid untuk ikut melaksanakan solat, selesai solat saya melihat sebuah kencleng sumbangan yang memang umum ada di masjid-masjid, teringat bahwa katanya Allah akan menjamin orang-orang yang menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah, maka sambil memanjatkan doa &#8216;ya Allah apabila memang benar engkau akan menjamin rizki orang-orang yang bersedia memberikan sebagian hartanya untuk keperluan umat, maka tolong jamin rizki saya dan saya ikhlaskan semua uang saya yang hanya lima ribu rupiah ini&#8217;, setelah itu meski sedikit bimbang karena sekarang bahkan tidak sepeser rupiah pun dipegang, saat keluar masjid ternyata ada salah seorang teman yang melintas, sambil mengobrol2 sedikit dia menanyakan kabar dan begitu mengetahui kesulitan yang sedang dialami, dia segera menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah dan kemudian pergi (subhanallah ternyata langsung dibalas 10 kali lipat saat itu juga), kemudian saya mulai berpikir apakah benar ini karena uang lima ribu yang disumbangkan tadi, saya pun masuk kembali ke dalam masjid dan kembali berdoa &#8216;ya Allah apabila kejadian tadi bukan suatu kebetulan, saya ikhlaskan lagi uang yang lima puluh ribu ini untuk disumbangkan, dan biarlah Allah yang akan menjadi penjaminku&#8217; sambil memasukkan uang lima puluh ribu dari teman tadi ke dalam kencleng, kemudian keluar kembali dari masjid, Sambil sedikit heran terhadap diri sendiri, sudah mendapatkan uang cukup malah disumbangkan kembali, ternyata tanpa disangka ada seorang bapak yang menghampirinya dan mengajak ngobrol sejenak kemudian tanpa disangka2 memberikan uang lima ratus ribu rupiah, dimana akhirnya dari uang itulah saya mulai menjalankan bisnis”</p><p>Begitulah si minim (yang telah menjadi si kaya) menuturkan kisahnya sambil memberitahukan bahwa usahanya ternyata terus meningkat seiring peningkatan jumlah sedekah yang dia keluarkan, bahkan untuk mesjid tempat dia bersedekah saat pertama mendapatkan petunjuk tersebut, dia kini telah menjadi donatur tetap dengan sumbangan rutin berjumlah jutaan perbulannya.</p><blockquote><p>Ternyata membolak-balikkan nasib seseorang jauh lebih mudah bagi Allah SWT, bahkan dibandingkan kemampuan membalikkan telur ceplok di wajan oleh koki terbaik sekalipun. Orang yang dahulu kami kenal sebagai si minim yang urakan dan tukang mabuk-mabukan ternyata sekarang telah menjadi si kaya yang soleh dan dermawan.</p></blockquote><p><strong>3.</strong>Keseimbangan, mengapa keseimbangan? Ya kerja keras memang perlu namun keseimbangan lebih penting karena kehidupan yang bahagia dan sukses hanya akan didapat bila kita bisa menjaga keseimbangan antara diri sendiri, pekerjaan, keluarga, relasi, dan agama. Semua faktor akan saling menunjang keberhasilan faktor lainnya, salah satu contohnya yang paling sederhana adalah untuk diri sendiri, saya mengutip keterangan dari salah seorang sahabat yang saya hormati, dimana dia katakan, kenyataannya sekarang ini lebih banyak orang lebih memilih untuk meminum supplemen untuk menunjang kerjanya yang diforsir dibandingkan memilih untuk beristirahat, padahal jika kemudian tubuh kita menjadi sakit, semua pekerjaan yang diniatkan agar maksimal dengan dikerjakan secara berlebihan tersebut malah menjadi tidak berjalan.<br
/> Bahkan nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya badanmu mempunyai hak, keluargamu juga mempunyai hak&#8230;”</p><p>Wassalam,<br
/> Ikram Nur Muharam</p><p>Referensi:<br
/> 1.Tafsir Ibnu Katsir<br
/> 2.Cinta di Rumah Hasan Al Bana – Muhammad Lili Nur Aulia</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://ikram.web.id/inspiration/article/kaya-dengan-islam-dan-kisah-si-minim/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- This site's performance optimized by W3 Total Cache. Dramatically improve the speed and reliability of your blog!

Learn more about our WordPress Plugins: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching using disk

Served from: depok.idwebhost.com @ 2012-02-06 15:23:54 -->
