Memahami Bahasa Tubuh, Mendengarkan apa yang tidak dikatakan

Raden Ikram | Leadership
26 Feb 2010

Non verbal Communication

Apakah dia benar-benar setuju?
Apakah mereka benar-benar mengerti?
Apa orang tersebut bisa dipercaya sebagai partner?
Apa dia tertarik?

Pertanyaan sederhana seperti itu pastinya seringkali terlintas di benak kita dalam berbagai situasi sehari-hari. Pertanyaannya, mungkinkah kita mengetahui apa yang sebenarnya orang lain pikirkan atau maksudkan. Meskipun tidak seratus persen bisa dikatakan tepat, cara untuk mengetahui tanggapan orang terhadap kita adalah dengan memperhatikan bahasa tubuh yang diperlihatkan oleh orang tersebut.

Seperti peribahasa “diam itu emas”, “less is more” dan lain-lain, bahasa tubuh ternyata justru bisa memberikan penjelasan lebih kepada kita dibandingkan ucapan dalam memahami maksud dan pemahaman orang lain.

Sebagai contoh:

Melihat atasan yang sedang cemberut dan terlihat muram sudah menjadi alasan tepat bagi kita untuk menunda pembicaraan tentang kenaikan gaji.
Mayoritas karyawan yang terlihat berjalan masuk ke ruangan meeting dengan tertunduk, mata sayu, dan memandang jam tangannya setiap beberapa saat seharusnya bisa dijadikan pertimbangan cepat oleh atasan untuk membatalkan meeting hari itu, dibandingkan melakukan meeting yang tidak menghasilkan suatu apapun (atau mungkin juga pertimbangan yang baik untuk mulai mencari karyawan baru!).
Lain halnya ketika seorang pria menanyakan kesediaan pujaan hatinya untuk dilamar, jawaban sang wanita yang mengatakan “tidak tahu” sambil diiringi tatapan berbinar dan senyum mengembang seharusnya sudah membuat sang pria bisa mulai merencanakan kapan tanggal pernikahan yang baik.

Bahasa tubuh untuk kepemimpinan (Non verbal for leadership)

Sejak beberapa tahun kebelakang, pola kebanyakan orang dalam memberikan penghargaan/simpati kepada orang lain terlihat sudah jauh berubah, jika dahulu seseorang dengan jabatan tinggi atau memiliki banyak harta akan sangat mudah untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain, saat ini kenyataannya sangat sulit untuk membuat diri kita dihargai oleh orang, bahkan jabatan dan harta pun akan diacuhkan apabila tidak bisa berempati kepada orang lain.

Contoh:
Hanya karena cemberut dan mengacuhkan senyuman seorang tukang parkir, bisa jadi bahkan seorang pejabat akan mendapati ban mobilnya telah bocor ketika akan pulang. Sebaliknya seorang karyawan biasa yang selalu tersenyum ramah kepada sang tukang parkir mungkin akan heran karena setiap pulang motornya selalu dalam keadaan bersih.

Memahami bahasa agar bisa lebih berempati

Seorang atasan yang bisa memperlihatkan bahasa tubuh yang baik, memahami bahasa tubuh karyawan, dan bisa menularkan empati di lingkungan perusahaan akan membawa perusahaan tersebut siap untuk menyongsong era baru dimana masyarakat kini lebih condong untuk memilih sesuatu yang bisa memberikan empati. Pemahaman yang baik akan bahasa tubuh bisa membuat kita lebih berempati.

Tags: , , ,

FacebookTwitterRSS Feed

Leave a Reply