<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
><channel><title>ikram.web.id &#187; Article</title> <atom:link href="http://ikram.web.id/category/inspiration/article/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://ikram.web.id</link> <description>Integrity, truthfulness, and straightforwardness</description> <lastBuildDate>Sun, 24 Oct 2010 01:18:45 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator> <item><title>Kwitansi</title><link>http://ikram.web.id/inspiration/article/kwitansi/</link> <comments>http://ikram.web.id/inspiration/article/kwitansi/#comments</comments> <pubDate>Sun, 24 Oct 2010 01:17:15 +0000</pubDate> <dc:creator>Raden Ikram</dc:creator> <category><![CDATA[Article]]></category> <category><![CDATA[akhlak]]></category> <category><![CDATA[inspirasi]]></category> <category><![CDATA[jujur]]></category> <category><![CDATA[motivasi]]></category><guid
isPermaLink="false">http://ikram.web.id/?p=547</guid> <description><![CDATA["Mau ditulis brp?" ucapan itu pastinya anda sering dengar bukan
Kebetulan saya mendengar kembali ucapan tersebut,
yang unik, profesi dari orang yang mengucapkannya kali ini adalah dokter
yang notabene merupakan profesi yang sangat mulia.
Kejadian tersebut menggelitik saya untuk menulis note ini]]></description> <content:encoded><![CDATA[<div
id="_mcePaste">&#8220;Mau ditulis brp?&#8221; ucapan itu pastinya anda sering dengar bukan</div><div
id="_mcePaste">Kebetulan saya mendengar kembali ucapan tersebut,</div><div
id="_mcePaste">yang unik, profesi dari orang yang mengucapkannya kali ini adalah dokter</div><div
id="_mcePaste">yang notabene merupakan profesi yang sangat mulia.</div><div
id="_mcePaste">Kejadian tersebut menggelitik saya untuk menulis note ini,</div><div
id="_mcePaste">karena hari itu sedikitnya mengingatkan saya kembali</div><div
id="_mcePaste">klo bukan profesinya yg penting, tp tetap bagaimana orangnya.</div><div
id="_mcePaste">Kwitansi &#8220;aspal&#8221; tersebut kini bukan hal yang aneh dan dianggap biasa,</div><div
id="_mcePaste">sebelumnya saya pun berkali2 mengalaminya,</div><div
id="_mcePaste">dimulai dari tukang pandai besi yang menjual roda gerobak,</div><div
id="_mcePaste">manajemen artis yang menawarkan talentnya,</div><div
id="_mcePaste">vendor2 event,</div><div
id="_mcePaste">dan beberapa lainnya.</div><div
id="_mcePaste">Yang hebat adalah pada sebagian besar kesempatan tersebut,</div><div
id="_mcePaste">meskipun sudah mengatakan &#8220;tulis nilai sebenarnya saja&#8221;</div><div
id="_mcePaste">biasanya mereka tetap akan menuliskan nilai yang &#8220;dilebihkan&#8221;</div><div
id="_mcePaste">sambil mengatakan &#8220;gpp, bayarnya ga usah senilai ini&#8221;.</div><div
id="_mcePaste">Bukan idealis atau sok suci,</div><div
id="_mcePaste">bukan membela perusahaan yang membayar/mengganti supaya gak rugi</div><div
id="_mcePaste">tp sepertinya kebanyakan orang semakin &#8220;gila&#8221;,</div><div
id="_mcePaste">menipu &#8220;perusahaan sendiri&#8221; yang memberinya penghasilan,</div><div
id="_mcePaste">bahkan menipu &#8220;orang tua&#8221; sendiri</div><div
id="_mcePaste">dianggap tidak salah dan biasa.</div><div
id="_mcePaste">Mungkin perusahaan atau orang tua tidak merasa rugi,</div><div
id="_mcePaste">namun kasihan sekali engkau kawan,</div><div
id="_mcePaste">hatimu terus merugi.</div><div
id="_mcePaste">Wassalam</div><p>&#8220;Mau ditulis brp?&#8221; ucapan itu pastinya anda sering dengar bukan<br
/> Kebetulan saya mendengar kembali ucapan tersebut,<br
/> yang unik, profesi dari orang yang mengucapkannya kali ini adalah dokter<br
/> yang notabene merupakan profesi yang sangat mulia.<br
/> Kejadian tersebut menggelitik saya untuk menulis note ini,<br
/> karena hari itu sedikitnya mengingatkan saya kembali<br
/> klo bukan profesinya yg penting, tp tetap bagaimana orangnya.</p><p>Kwitansi &#8220;aspal&#8221; tersebut kini bukan hal yang aneh dan dianggap biasa,<br
/> sebelumnya saya pun berkali2 mengalaminya,<br
/> dimulai dari tukang pandai besi yang menjual roda gerobak,<br
/> manajemen artis yang menawarkan talentnya,<br
/> vendor2 event,<br
/> dan beberapa lainnya.<br
/> Yang hebat adalah pada sebagian besar kesempatan tersebut,<br
/> meskipun sudah mengatakan &#8220;tulis nilai sebenarnya saja&#8221;<br
/> biasanya mereka tetap akan menuliskan nilai yang &#8220;dilebihkan&#8221;<br
/> sambil mengatakan &#8220;gpp, bayarnya ga usah senilai ini&#8221;.</p><p>Bukan idealis atau sok suci,<br
/> bukan membela perusahaan yang membayar/mengganti supaya gak rugi<br
/> tp sepertinya kebanyakan orang semakin &#8220;gila&#8221;,<br
/> menipu &#8220;perusahaan sendiri&#8221; yang memberinya penghasilan,<br
/> bahkan menipu &#8220;orang tua&#8221; sendiri<br
/> dianggap tidak salah dan biasa.</p><p>Mungkin perusahaan atau orang tua tidak merasa rugi,<br
/> namun kasihan sekali engkau kawan,<br
/> hatimu terus merugi.</p><p><strong>Wassalam</strong></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://ikram.web.id/inspiration/article/kwitansi/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Kaya Dengan Islam dan Kisah Si Minim</title><link>http://ikram.web.id/inspiration/article/kaya-dengan-islam-dan-kisah-si-minim/</link> <comments>http://ikram.web.id/inspiration/article/kaya-dengan-islam-dan-kisah-si-minim/#comments</comments> <pubDate>Wed, 07 Apr 2010 11:04:39 +0000</pubDate> <dc:creator>Raden Ikram</dc:creator> <category><![CDATA[Article]]></category> <category><![CDATA[islam]]></category> <category><![CDATA[kaya]]></category> <category><![CDATA[kisah islami]]></category><guid
isPermaLink="false">http://ikram.web.id/?p=388</guid> <description><![CDATA[Sahabat, telah banyak kita mendengar sebagian orang berkata bahwa penerapan prinsip-prinsip islam yang terlalu mendetail dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menghambat upaya kita dalam menggapai kekayaan dunia yang diharapkan. Pertanyaannya benarkah islam dan aturan2nya merupakan penghambat keinginan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang berlimpah? Satu hal yang sering dijadikan argumen oleh kebanyakan orang yang berpendapat seperti ]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat, telah banyak kita mendengar sebagian orang berkata bahwa penerapan prinsip-prinsip islam yang terlalu mendetail dalam kehidupan sehari-hari hanya akan menghambat upaya kita dalam menggapai kekayaan dunia yang diharapkan. Pertanyaannya benarkah islam dan aturan2nya merupakan penghambat keinginan untuk memperoleh kenikmatan dunia yang berlimpah?</p><p>Satu hal yang sering dijadikan argumen oleh kebanyakan orang yang berpendapat seperti diatas adalah, bahwa kenyataannya justru banyak orang-orang kaya yang ada sekarang adalah mereka yang tidak menjalankan keseluruhan ajaran yang ada dalam islam, bahkan sebagian sama sekali tidak mengaplikasikan ajaran agama. Akhirnya mereka berkesimpulan bahwa yang menentukan kesuksesan adalah ilmu pengetahuan dan kerja keras semata dan tidak ada kaitannya dengan agama.</p><p>Seperti apakah islam memberikan jawaban untuk masalah ini. Ternyata hal ini sudah dijawab langsung oleh Allah SWT yang tercantum di dalam al-Quran, yang seperti kita ketahui bersama sudah ada sejak jaman nabi Muhammad SAW, masalahnya ternyata tidak semua orang mencoba untuk mencari dan mempelajarinya, padahal pentingnya ilmu sudah sangat jelas, nabi dalam sebuah hadits bersabda, “Tuntutlah ilmu dari semenjak dilahirkan sampai masuk liang lahat”.</p><p>Penjelasan mengenai kenapa orang-orang yang tidak beriman sekalipun bisa mendapatkan kekayaan berlimpah padahal katanya yang mendatangkan rahmat Allah itu adalah orang-orang yang beriman,kita lihat pada salah satu firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 212, firman-Nya:</p><p><strong>“Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. Dan Allah memberi rizki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. 2:212)</strong></p><p>Disebutkan dengan jelas bahwa Allah memberi rizki kepada semua hamba yang dikehendaki-Nya dan tanpa batas. Hal ini menjelaskan bahwa keseluruhan manusia siapapun itu akan mendapatkan limpahan kenikmatan sesuai dengan kehendak-Nya. Yang perlu dijadikan renungan adalah, penjelasan juga bahwa harta yang diperoleh dengan mengabaikan nilai-nilai islam hanya akan bermakna selama didunia, dan pada akhirnya di akhirat nanti tidak akan memberikan manfaat apapun. Karena itu sungguh beruntung orang-orang yang diberikan nikmat bekerja keras, keinginan menuntut ilmu, serta tetap menjunjung nilai-nilai islam dalam kehidupan kesehariannya, karena mereka akan mendapatkan kenikmatan yang tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak, Insya Allah.</p><p>Bagaimana mencapai kekayaan dunia akhirat:</p><p><strong>1.</strong>Menuntut ilmu tanpa henti, tanpa perlu dijelaskan lagi keistimewaan menuntut ilmu yang bahkan apabila disebarkan akan menjadi pahala yang terus mengalir kendati kita telah meninggal dunia.</p><p><strong>2.</strong>Sedekah, manfaatnya sama seperti ilmu yang pahalanya akan terus mengalir, disamping itu terdapat banyak janji-janji Allah tentang balasan kenikmatan dari sedekah ini baik di dunia maupun di akhirat. Untuk sedekah ini saya mempunyai sebuah kisah nyata dari salah seorang sahabat saya.</p><p><strong>“Si Minim”</strong></p><p>Si minim, begitu dulu hampir semua teman-teman memanggilnya, bukan karena bentuk fisik atau namanya dia disebut begitu, namun lebih dikarenakan, pada setiap kesempatan bermain bersama, si minim tersebut hampir selalu tidak mempunyai uang, bahkan sekedar lembaran ribuan rupiah pun tidak dimilikinya.</p><p>Ketika beranjak dewasa hampir semua teman sepermainan kami berpisah, dan beberapa bahkan tidak diketahui lagi keberadaanya. Setelah hampir tiga tahun tidak bertemu (keadaan si minim pada saat terakhir bertemu masih minim) kami berjumpa kembali pada akhir 2009 lalu, pada saat perjumpaan kembali untuk pertama tidak ada yang istimewa karena si minim (yang ternyata sudah tidak minim) pun hanya sekedar sekalian mampir karena sedang ada keperluan, jadi hanya sebentarlah kami mengobrol, si minim pun kemudian pamit dan berjanji minggu depan akan kembali lagi karena mempunyai waktu luang, maka pulanglah si minim (yang tanpa disadari masih disebut si minim oleh sahabat yang lain, padahal saat itu dia sudah mengendarai sebuah mobil)</p><p>Semua sahabat baru terhenyak ketika si minim datang kembali sesuai janji pada minggu depannya, semua sudah mulai bertanya-tanya kenapa mobil yang digunakan oleh si minim tersebut sudah berganti lagi bukan mobil yang digunakan ketika bertemu minggu lalunya, apakah karena itu mobil kantor atau lainnya. Saat ditanya tentang hal tersebut, suasana sedikit berubah, si minim ternyata malah terisak sebelum memulai ceritanya, menurut penuturannya mobil-mobil tersebut adalah benar miliknya dan bahkan selain itu masih ada mobil-mobilnya yang lain, juga dimilikinya beberapa rumah dan sebuah perusahaan yang dia katakan omsetnya kini telah mencapai miliaran dalam sebulan.</p><p>Diiringi suasana malam yang semakin haru kemudian sahabat yang lain kembali bertanya “Bagaimana cara mendapatkan semua kekayaan itu, padahal selang waktu kita tidak bertemu hanya sekitar dua setengah tahun?”. Sambil terisak dan tetesan airmata yang mulai mengalir diwajahnya, dia berkisah, “Setiap mengingat semua ini rasanya tidak akan cukup semua syukur yang harus diucapkan, ketika itu, yaitu sekitar dua tahun yang lalu, saya berada dalam situasi yang sangat sulit sampai-sampai pada suatu hari istri memberitahu kebutuhan dapur belum terpenuhi, si kecil terus merengek meminta susu dan berbagai keperluan lainnya, sedangkan uang yang saya pegang hanya lima ribu rupiah, dimana harga sekotak susu bubuk ukuran kecil pun bisa 4 kali lipatnya. Saat kebingungan itu saya mencoba keluar rumah untuk berkeliling mencari pekerjaan yang sekiranya bisa menuntaskan permasalahan yang ada. Saat sedang berkeliling mencari pekerjaan itulah terdengar suara azan yang entah kenapa tidak seperti biasanya yang saya acuhkan, saya masuk ke masjid untuk ikut melaksanakan solat, selesai solat saya melihat sebuah kencleng sumbangan yang memang umum ada di masjid-masjid, teringat bahwa katanya Allah akan menjamin orang-orang yang menginfakkan sebagian hartanya di jalan Allah, maka sambil memanjatkan doa &#8216;ya Allah apabila memang benar engkau akan menjamin rizki orang-orang yang bersedia memberikan sebagian hartanya untuk keperluan umat, maka tolong jamin rizki saya dan saya ikhlaskan semua uang saya yang hanya lima ribu rupiah ini&#8217;, setelah itu meski sedikit bimbang karena sekarang bahkan tidak sepeser rupiah pun dipegang, saat keluar masjid ternyata ada salah seorang teman yang melintas, sambil mengobrol2 sedikit dia menanyakan kabar dan begitu mengetahui kesulitan yang sedang dialami, dia segera menyodorkan uang lima puluh ribu rupiah dan kemudian pergi (subhanallah ternyata langsung dibalas 10 kali lipat saat itu juga), kemudian saya mulai berpikir apakah benar ini karena uang lima ribu yang disumbangkan tadi, saya pun masuk kembali ke dalam masjid dan kembali berdoa &#8216;ya Allah apabila kejadian tadi bukan suatu kebetulan, saya ikhlaskan lagi uang yang lima puluh ribu ini untuk disumbangkan, dan biarlah Allah yang akan menjadi penjaminku&#8217; sambil memasukkan uang lima puluh ribu dari teman tadi ke dalam kencleng, kemudian keluar kembali dari masjid, Sambil sedikit heran terhadap diri sendiri, sudah mendapatkan uang cukup malah disumbangkan kembali, ternyata tanpa disangka ada seorang bapak yang menghampirinya dan mengajak ngobrol sejenak kemudian tanpa disangka2 memberikan uang lima ratus ribu rupiah, dimana akhirnya dari uang itulah saya mulai menjalankan bisnis”</p><p>Begitulah si minim (yang telah menjadi si kaya) menuturkan kisahnya sambil memberitahukan bahwa usahanya ternyata terus meningkat seiring peningkatan jumlah sedekah yang dia keluarkan, bahkan untuk mesjid tempat dia bersedekah saat pertama mendapatkan petunjuk tersebut, dia kini telah menjadi donatur tetap dengan sumbangan rutin berjumlah jutaan perbulannya.</p><blockquote><p>Ternyata membolak-balikkan nasib seseorang jauh lebih mudah bagi Allah SWT, bahkan dibandingkan kemampuan membalikkan telur ceplok di wajan oleh koki terbaik sekalipun. Orang yang dahulu kami kenal sebagai si minim yang urakan dan tukang mabuk-mabukan ternyata sekarang telah menjadi si kaya yang soleh dan dermawan.</p></blockquote><p><strong>3.</strong>Keseimbangan, mengapa keseimbangan? Ya kerja keras memang perlu namun keseimbangan lebih penting karena kehidupan yang bahagia dan sukses hanya akan didapat bila kita bisa menjaga keseimbangan antara diri sendiri, pekerjaan, keluarga, relasi, dan agama. Semua faktor akan saling menunjang keberhasilan faktor lainnya, salah satu contohnya yang paling sederhana adalah untuk diri sendiri, saya mengutip keterangan dari salah seorang sahabat yang saya hormati, dimana dia katakan, kenyataannya sekarang ini lebih banyak orang lebih memilih untuk meminum supplemen untuk menunjang kerjanya yang diforsir dibandingkan memilih untuk beristirahat, padahal jika kemudian tubuh kita menjadi sakit, semua pekerjaan yang diniatkan agar maksimal dengan dikerjakan secara berlebihan tersebut malah menjadi tidak berjalan.<br
/> Bahkan nabi Muhammad SAW bersabda “Sesungguhnya badanmu mempunyai hak, keluargamu juga mempunyai hak&#8230;”</p><p>Wassalam,<br
/> Ikram Nur Muharam</p><p>Referensi:<br
/> 1.Tafsir Ibnu Katsir<br
/> 2.Cinta di Rumah Hasan Al Bana – Muhammad Lili Nur Aulia</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://ikram.web.id/inspiration/article/kaya-dengan-islam-dan-kisah-si-minim/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Tolong Matikan Handphone Selama Khutbah dan Solat Jumat Berlangsung</title><link>http://ikram.web.id/inspiration/article/tolong-matikan-handphone-selama-khutbah-dan-solat-jumat-berlangsung/</link> <comments>http://ikram.web.id/inspiration/article/tolong-matikan-handphone-selama-khutbah-dan-solat-jumat-berlangsung/#comments</comments> <pubDate>Fri, 22 Jan 2010 06:00:08 +0000</pubDate> <dc:creator>Raden Ikram</dc:creator> <category><![CDATA[Article]]></category> <category><![CDATA[Khutbah Jumat]]></category> <category><![CDATA[Solat Jumat]]></category><guid
isPermaLink="false">http://ikram.web.id/?p=262</guid> <description><![CDATA[Bagi para pria mungkin kalimat perintah ini sudah sering terdengar, terutama ketika melaksanakan solat jumat di masjid. Anehnya meskipun sudah puluhan atau bahkan ratusan kali mendengarkan larangan tersebut tetap masih ada saja bunyi dering handphone yang terdengar oleh saya, bahkan hampir setiap minggunya ketika menjalankan solat jumat. Entah apa maksudnya, namun saya pikir apa susahnya ]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Bagi para pria mungkin kalimat perintah ini sudah sering terdengar, terutama ketika melaksanakan solat jumat di masjid. Anehnya meskipun sudah puluhan atau bahkan ratusan kali mendengarkan larangan tersebut tetap masih ada saja bunyi dering handphone yang terdengar oleh saya, bahkan hampir setiap minggunya ketika menjalankan solat jumat. Entah apa maksudnya, namun saya pikir apa susahnya untuk sekedar mematikan handphone beberapa saat, bahkan tidak sampai satu jam selama pelaksanaan khutbah dan solat jumat tersebut, kalaupun ternyata sedang menunggu sms kabar penting tidak ada salahnya untuk seting handphone ke <em>silent</em> sehingga sms tetap bisa diterima.</p><p>Yang unik adalah seringnya handphone dari orang yang tetap &#8220;nakal&#8221; tersebut biasanya berbunyi pada saat sedang melaksanakan solat, sehingga jeleknya saya menjadi berpikir apakah hal tersebut memang sengaja di seting untuk berdering pada jam tersebut atau memang suatu kebetulan saja. Kemungkinan terjadinya kebetulan tersebut sebenarnya sangatlah kecil, meskipun tentu bisa saja terjadi, kenapa kemungkinannya kecil? jawabannya karena sudah tentu mayoritas orang yang mengenal dan mengetahui nomor telepon orang tersebut sudah mengetahui bahwa setiap hari jumat pada jam sekian adalah waktu pelaksanaan solat jumat, sehingga kemungkinan beasr akan menghindari untuk melakukan panggilan telepon pada sekitar jam tersebut.</p><p>Tanpa bermaksud menyentil pihak-pihak yang senang membunyikan handphonenya pada saat solat jumat tersebut, namun tentu alangkah baiknya apabila kita sama-sama menjaga kekhusuan pelaksanaan ibadah tersebut.</p><p>Jadi coba kita sama-sama kembali baca</p><blockquote><p><strong>Tolong Matikan Handphone Selama Khutbah dan Solat Jumat Berlangsung</strong></p></blockquote> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://ikram.web.id/inspiration/article/tolong-matikan-handphone-selama-khutbah-dan-solat-jumat-berlangsung/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> <item><title>Dilema Aspek Legalitas, Moral, dan Etika</title><link>http://ikram.web.id/inspiration/article/dilema-aspek-legalitas-moral-dan-etika/</link> <comments>http://ikram.web.id/inspiration/article/dilema-aspek-legalitas-moral-dan-etika/#comments</comments> <pubDate>Wed, 20 Jan 2010 00:36:45 +0000</pubDate> <dc:creator>Raden Ikram</dc:creator> <category><![CDATA[Article]]></category> <category><![CDATA[Etika Bisnis]]></category> <category><![CDATA[Hukum]]></category> <category><![CDATA[Moral]]></category> <category><![CDATA[Peraturan Pemerintah]]></category><guid
isPermaLink="false">http://ikram.web.id/?p=254</guid> <description><![CDATA[Berbicara tentang legalitas tentunya berkaitan dengan peraturan atau hukum yang berlaku, dimana yang sangat berpengaruh disini tentunya merupakan peraturan atau hukum resmi yang berlaku dan tertulis dan dibuat oleh pihak yang berwenang (biasanya pemerintah). Dilihat dari aspek legalitas ini tentunya akan sangat mudah untuk membedakan mana benar dan salah, karena sesuatu yang bertentangan dengan peraturan ]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Berbicara tentang legalitas tentunya berkaitan dengan peraturan atau hukum yang berlaku, dimana yang sangat berpengaruh disini tentunya merupakan peraturan atau hukum resmi yang berlaku dan tertulis dan dibuat oleh pihak yang berwenang (biasanya pemerintah).</p><p>Dilihat dari aspek legalitas ini tentunya akan sangat mudah untuk membedakan mana benar dan salah, karena sesuatu yang bertentangan dengan peraturan tertulis tersebut sudah pasti akan dinyatakan salah, dan mengikuti aturan tersebut adalah benar.</p><p>Dalam praktiknya ternyata aspek legal tersebut bisa menimbulkan suatu perdebatan bila disandingkan dengan aspek moral, dimana legalitas hukum yang berlaku dalam beberapa kasus mungkin justru biasa bertentangan dengan hati nurani yang notabene merupakan dasar dari aspek moral tersebut.</p><p>Ambil contoh kasus: <strong>Penerapan Aturan Pemerintah Daerah DKI Jakarta Yang Melarang Masyarakat Untuk Memberikan Uang Secara Langsung Kepada Pengemis dan Anak Jalanan</strong></p><p>Dari sisi legal sudah tentu apabila kita memberikan uang kepada pengemis di Jakarta merupakan sesuatu yang salah karena menyalahi aturan yang berlaku, namun bila dilihat dari sisi hati nurani (moral) sebagian akan merasa bahwa aturan tersebut yang salah, karena pemikiran yang timbul adalah &#8220;masa mau berbuat baik dilarang&#8221;.</p><p>Mana yang benar mana yang salah?</p><p>Saya sendiri cenderung berada di tengah-tengah kedua aspek tersebut karena kadang berpikir, benar juga ya aturan tersebut apalagi dalam jangka panjang akan membawa manfaat lebih besar. Namun dilain sisi saat sisi melankolis yang menang pada situasi tertentu, saya justru memutuskan untuk memberikan uang kepada pengemis karena perasaan iba yang muncul pada saat itu, juga pemikiran bahwa meskipun pemerintah berniat membantu mereka dalam jangka panjang, untuk jangka pendek, hari ini, beberapa hari kedepan akan makan dan minum apa mereka.</p><p>Bagaimana pendapat anda? setiap individu tentunya mempunyai cara berpikirnya sendiri.</p><p>Jika dilihat dari teori etika maka bisa dibedakan menjadi</p><p><strong>1. Teleologis</strong></p><p>Yaitu sesuatu disebut baik apabila mencapai tujuan yang baik pula</p><p><strong>2. Deontologis</strong></p><p>Sesuatu disebut baik apabila niatnya baik tanpa memperhutingkan konsekuensi dari pebuatan baik tersebut</p><p>Dalam kasus pengemis tersebut sebagian yang memilih memberikan uang bisa disebut menganut deontologis karena niatnya sudah baik, namun bisa jadi hal tersebut tidak memecahkan masalah dan justru menambah banyak jumlah pengemis yang ada.</p><p>Sedangkan pihak yang memilih mengikuti aturan pemerintah bisa disebut mengikuti teleologis karena diharapkan akan mencapai tujuan yang baik yaitu berkurang atau bahkan akan hilangnya para pengemis dan anak jalanan tersebut.</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://ikram.web.id/inspiration/article/dilema-aspek-legalitas-moral-dan-etika/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- This site's performance optimized by W3 Total Cache. Dramatically improve the speed and reliability of your blog!

Learn more about our WordPress Plugins: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching using disk

Served from: depok.idwebhost.com @ 2012-02-06 15:37:42 -->
